Minggu, 15 Februari 2015

Kajian SUBULANA-2 :Pengantar Ilmu Fiqih


1.       PENGANTAR ILMU FIQIH.

v  PENGERTIAN (ta'rif)  FIQIH

ü  Pengertian secara Bahasa Fiqih فقه
Fiqih secara bahasa artinya al fahm  (الفهم) yakni paham.
Contoh kata fiqih dalam al Quran :

(قَالُوايَاشُعَيْبُمَانَفْقَهُكَثِيرًامِمَّاتَقُولُوَإِنَّالَنَرَاكَفِينَاضَعِيفًاۖوَلَوْلَارَهْطُكَلَرَجَمْنَاكَۖوَمَاأَنْتَعَلَيْنَابِعَزِيزٍ) [Surat Hud : 91]
“Mereka berkata: "Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu (QS. Hud: 91)

(أَيْنَمَاتَكُونُوايُدْرِكْكُمُالْمَوْتُوَلَوْكُنْتُمْفِيبُرُوجٍمُشَيَّدَةٍۗوَإِنْتُصِبْهُمْحَسَنَةٌيَقُولُواهَٰذِهِمِنْعِنْدِاللَّهِۖوَإِنْتُصِبْهُمْسَيِّئَةٌيَقُولُواهَٰذِهِمِنْعِنْدِكَۚقُلْكُلٌّمِنْعِنْدِاللَّهِۖفَمَالِهَٰؤُلَاءِالْقَوْمِلَايَكَادُونَيَفْقَهُونَحَدِيثًا) [Surat An-Nisa : 78]
Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (QS. An Nisa : 78)

Diayat diatas ada kalimat (kata) :    maa nafqohu  yg artinya  = maa (tidak) nafqohu (kami memahami).
5:57 25 Jan - ust. Ahmad syahrin Toriq: Diayat selanjutnya, an Nisa ayat 78 ada kalimat : yafqohuuna (mereka memahami).

Semua kalimat tersebut berasal dr kata faqiha فقه

Catatan kecil :
Dalam basa arab, kata disebut kalimat.Sedangkan kalimat disebu jumlah.
Kita sepakati, kita gunakan kalimat untuk kata, jumlah utk kalimat.
Memahami = mengerti.

Beberapa syarah (penjelasan):
*      Ta'rif (pengertian)
Ta'rif adalah sebuah ungkapan yang menjelaskan hakikat sesuatu. Kelihatannya hal sepele, namun sebenarnya ta'rif tidak bukan perkara sederhana... ta''rif yang keliru bisa menyebabkan kesalahan fatal.
Karena itu dalam segala permasalah fiqih dan agama umumnya,  ta'rif selalu disertakan. Dalam bahasa indonesia ta'rif disebut definisi.
Syarat ta'rif diantaranya Jaami' (جامع)  dan Maani’i(مانع).
*      Jami' artinya mencakup (yg harus dicakup), mani' artinya menolak/mengeluarkan (sesuatu yg tidak masuk kategori). Sehingga ta'rif tidak cukup secara bahasa, krn masih terlalu umum, perlu ta'rif secara istilah. Yang berfungsi utk mencakup  dan mengeluarkan yg tidak seharusnya dalam cakupan.
Kata fiqih yg maknanya = ilmu paham, masih sangat umum. Bisa dikatakan  jami' (meliputi) nya
berfungsi. Sedangkan mani' nya tidak. Karna faham disini bisa paham fiqh, paham ilmu bahasa,
paham matematika, paham aqidah, paham ilmu falsafah dll. Padahal difiqih tidak ada
matematika, ilmu aqidah dst....
Fungsi Mani =Menolak. Kita ambil contoh. Kata : kitabullah. Secara bahasa artinya  kitabnya
Allah. Disini kita lihat fungsi mencakupnya  (jami') berfungsi baik, Semua kitab Allah tercakup,
 injil, taurat, al quran dll.
Tp fungsi mani' (menolak) tidak berfungsi . Karena yg dimaksud kitabullah adalah al quran. Injil, zabur tidak termsuk.
Sehingga kemudian dibuat difinisi secara istilahi : kitabullah adalah wahyu yang Allah turunkan kepada nabi muhammad lewat malaikat jibril.
Disini barulah mani'nya berfungsi....

Kalau tidak paham perkara ta'rif  tidak apa-apa, karena sarahnya  lebih kepada tatabahasa, ilmu logika. Ana sudh berupaya menyederhanakan. Tp masalahnya ini juga bukan perkara yg sederhana...😃
Yg perlu antm pahami betul, inti2 pembahasan saja. Yg ana tandsi dengan 

🌷 pengertian secara istilah
Fiqih adalah Ilmu yang membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil dari dalil-dalil secara rinci,”
🌻 Penjelasan definisi.
Di ta'rif istilah diatas kita menemukan kata :
1. Ilmu
2. Hukum syariat
3. Perbuatan nyata
4. Dalil -dalil rinci.

Kita bahas yuk (nah, kita akan tahu mani'nya disini)

Ad.1. Ilmu
IlmuFiqih adalah sebuah cabang ilmu, yang tentunya bersifat ilmiyah, logis dan memiliki obyek dan kaidah tertentu.
Fiqh tidak seperti tasawuf yang lebih merupakan gerakan hati dan perasaan. Juga bukan seperti tarekat yang merupakan pelaksanaan ritual-ritual. Fiqih juga bukan seni yang lebih bermain dengan rasa dan keindahan.
Fiqih adalah sebuah cabang ilmu yang bisa dipelajari, didirikan di atas kaidah-kaidah yang bisa dipresentasikan dan diuji secara ilmiyah.
Selama ini fiqih sudah menjadi fakultas yang diajarkan di berbagai universitas sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan yang bersifat akademis dan diakui secara ilmiyah di dunia international.



Ad.2. Hukum Syariat
Ilmu fiqih adalah salah satu cabang ilmu, yang secara khusus termasuk ke dalam cabang ilmu hukum. Jadi pada hakikatnya ilmu fiqih adalah ilmu hukum.
Kita mengenal ada banyak cabang dan jenis ilmu hukum, misalnya hukum adat yang secara tradisi berkembang pada suatu masyarakat tertentu. Selain hukum adat, kita juga mengenal hukum barat yang umumnya hasil dari penjajahan Belanda.

Hukum yang menjadi wilayah kajian ilmu fiqih adalah hukum syariat, yaitu hukum yang bersumber dari Allah SWT serta telah menjadi ketetapan-Nya, dimana kita sebagai manusia, telah diberi beban mempelajarinya, lalu menjalankan hukum-hukum itu, serta berkewajiban juga untuk mengajarkan hukum-hukum itu kepada umat manusia.
Dengan kata lain, ilmu fiqih bukan ilmu hukum yang dibuat oleh manusia. Fiqih adalah hukum syariat, dimana hukum itu 100% dipastikan berasal dari Allah SWT.
Keterlibatan manusia dalam ilmu fiqih hanyalah dalam menganalisa, merinci, memilah serta menyimpullkan apa yang telah Allah taala firmankan lewat Al-Quran Al-Kariem dan juga lewat apa yang telah Rasulullah shalallahualaihi wslm sampaikan berupa sunnah nabawiyah atau hadits nabawi.

Ad.3. Amaliyah nyata
Yang dimaksud dengan amaliah adalah bahwa hukum fiqih itu terbatas pada hal-hal yang bersifat amaliyah badaniyah, bukan yang bersifat ruh, perasaan, atau wilayah kejiwaan lainnya.
Sebagaimana kita tahu hukum syariah itu cukup banyak wilayahnya, ada wilayah akidah yang lebih menekankan pada wilayah keyakinan dan pondasi keimanan. Ada hukum yang terkait dengan akhlak dan etika.
Dalam hal ini ilmu hukum fiqih hanya membahas hukum-hukum yang bersifat fisik berupa perbuatan- perbuatan manusia secara fisik lahiriyah. Tegasnya, fiqih itu hanya menilai dari segi yang kelihatan saja, sedangkan yang ada di dalam hati, atau di dalam benak, tidak termasuk wilayah amaliyah.

Ad.4. Dalil-Dalinya rinci
Banyak orang beranggapan bahwa ilmu fiqih itu sekedar karangan atau logika para ulama, yang menurut mereka bahwa ulama itu manusia juga. Sedangkan yang berasal dari Allah hanyalah Al-Quran, dan yang berasal dari Rasulullah adalah Al-Hadits.
Cara pemahaman seperti ini mungkin maksudnya benar tetapi agak kurang tepat dalam memahaminya. Sesungguhnya ilmu fiqih itu 100% diambil dari Al-Quran dan Sunnah nabiwiyah, sebagai sumber rujukan utama. Rasanya tidak ada yang menyalahi hal prinsip ini.
Namun kita tahu bahwa tidak mudah memahami Al- Quran atau hadits begitu saja, khususnya buat orang-orang yang awam dan tidak mengerti ilmu-ilmu dalam memahami keduanya.
Kalau yang melakukannya orang awam atau orang ajam, apalagi jarak antara kita hidup dengan masa turunnya Al- Quran sudah terpaut 14 abad lamanya. Ditambah lagi kita punya perbedaan budaya dengan Rasulullah shalallahualaihiwaslam.
Maka harus ada ilmu dan metode yang baku dan bisa dipertanggung-jawabkan untuk bisa mengeluarkan kesimpulan hukum dari Al-Quran dan Sunnah.
Kalau boleh dibuat perumpamaan, ilmu fiqih itu ibarat ilmu tentang prakiraan cuaca. Ilmu ini tentu bukan ilmu ramal meramal dengan menggunakan kekuatan ghaib. Ilmu ini mengandalkan data dan fakta dari gejala-gejala di alam, yang sebenarnya semua orang bisa melihat atau merasakannya. Misalnya arah hembusan angin dan kecepatannya, kelembaban udara, suhu, dan lainnya.
Bagi orang awam, walaupun mereka bisa melihat atau merasakannya semua gejala alam itu, namun mereka tidak akan bisa mengetahui bagaimana mengolah data-data gejala alam itu secara akurat. Yang bisa mengolah data-data itu hanya mereka yang belajar ilmu itu secara serius.
Kalau kita buka kitab suci Al-Quran dan atau membolak- balik kitab shahih Bukhari, sebenarnya yang kita lakukanbarulah membaca data mentah.
Kalau kita tidak mengerti bahasa Arab dengan seluk beluk sastranya, maka kita tidak akan mengerti makna setiap ayat dan hadits sebagai mendasar.
Kalau kita tidak tahu latar belakang kenapa ayat itu turun, dan juga tidak punya informasi kenapa Rasulullah bersabda, tentu saja kita tidak punya pegangan dasar tentang tujuan masing-masing dalil itu.
Satu hal lagi yang amat fatal, yaitu seringkali secara sekilas kita melihat atau menyangka telah terjadi ketidak- singkronan antara satu ayat dengan ayat lainnya, juga antara hadits yang satu dengan hadits lainnya. Bahkan antara ayat dan hadits pun terkadang terjadi hal yang sama. Maka buat orang awam, seringkali terjadi kekeliruan yang amat fatal.
Padahal yang sesungguhnya terjadi bukan tidak singkron, tetapi karena kita tidak tahu konteks dari masing- masing dalil. Atau boleh jadi Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam berbicara dalam waktu dan situasi yang berbeda.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya shahabat, amal apa yang paling utama di sisi Allah. Jawaban beliau adalah jihad di jalan Allah. Tetapi pada kesempatan yang lain, ketika diajukan pertanyaan yang sama, jawaban beliau adalah berbakti kepada orang tua. Bahkan pernah juga beliau hanya berpesan untuk tidak pernah berdusta selama-lamanya.
Tentu saja orang awam akan bingung kalau membaca hadits-hadits yang sekilas kelihatan berbeda itu. Tetapi dengan ilmu fiqih, kita jadi tahu bahwa jawaban yang berbeda-beda itu ternyata disebabkan orang yang bertanya berbeda-beda.
Ternyata beliau  menjawab setiap pertanyaan itu berdasarkan kondisi subjektif masing-masing penanya. Mereka yang kurang berbakti kepada orang tua, maka nasihat beliau adalah disuruh berbakti. Buat mereka yangrada pengecut dan kurang punya nyali, beliau anjurkan untuk berjihad di jalan Allah. Sedangkan buat pedagang yang sering kalau berdagang banyak bohongnya, nasehat beliau adalah jangan berdusta.

Kesimpulan :
Secara sederhana kita bisa simpulkan bahwa fiqih adalah kesimpulan hukum-hukum bersifat baku hasil ijtihad ulama yang bersumber dari Al-Quran, sunnah, ijma, qiyas dan dalil- dalil yang ada.

Kajian SUBULANA-1 :MATERI TA'LIM

MATERI PERKULIAHAN


1.       Pengantar ilmu fiqih
Bagian Pertama, Ilmu Fiqih 
Bab 1 : Pengertian Fiqih 
Bab 2 : Keistimewaan Fiqih 
Bab 3 : Urgensi Belajar Ilmu Fiqih 
Bab 4 : Proses Terbentuknya Hukum Fiqih 
Bab 5 : Tema-tema Besar Fiqih 
Bab 6 : Istilah Dalam Fiqih 
Bab 7 : Ilmu Ushul Fiqih 
Bab 8 : Qawaid Fiqhiyah 

Bagian Kedua, Sumber-sumber Fiqih 
Bab 1 : Sumber-sumber Fiqih 
Bab 2 : Al-Quran 
Bab 3 : As-Sunnah 
Bab 4 : Pembagian Hadits 
Bab 5 : Ijma' 
Bab 6 : Qiyas 
Bab 7 : Al-Masalih Al-Mursalah 
Bab 8 : Al-Istishhab 
Bab 9 : Saddu Adz-Dzari’ah 
Bab 10 : Al-'Urf 
Bab 11 : Qaul Shahabi 
Bab 12 : Syar'u Man Qablana 
Bab 13 : Istihsan

Bagian Ketiga, Mazhab Fiqih 
Bab 1 : Ijtihad 
Bab 2 : Taqlid 
Bab 3 : Perbedaan Pendapat Fuqaha 
Bab 4 : Mazhab Fiqih 
Bab 5 : Hukum Bermazhab 
Bab 6 : Paham Anti Mazhab 
Bab 7 : Talfiq Antar Mazhab 
Bab 8 : Sejarah Awal Mazhab Fiqih 
Bab 9 : Mazhab Al-Hanafiyah 
Bab 10 : Mazhab Al-Malikiyah 
Bab 11 : Mazhab Asy-Syafi’iyah 
Bab 12 : Mazhab Al-Hanabilah 
Bab 13 : Mazhab Fiqih Lainnya 

Bagian Keempat, Rujukan Fiqih 
Bab 1 : Kitab-kitab Fiqih 
Bab 2 : Lembaga Fiqih 
Bab 3 : Qanun & Taqnin Syariah 
Bab 4 : Fatwa 

2.       Fiqih Ibadah
Bagian-1 : Thaharah
1. Pembagian air
2. Najasah
3. Wudhu
4. Mandi
5. Tayamum
6. Istinja'

Selasa, 07 Februari 2012

Nahtaaju ilaa Attarwiihi

اْلإِنْسَانُ يَحْتَاجُ إِلَى التَّرْوِيْحِ
MANUSIA BUTUH ISTIRAHAT


: الْحَمْدُ لَلَّهِ عَلَى سَلاَمَتِكَ يَا إِبْرَاهِيْمُ.
هشام
Segala puji bagi Allah atas keselamatanmu, hai Ibrahim!
Dokter
: شُكْرًا لَكَ. أَنَا بِخَيْرٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ. إبراهيم
Terimakasih. Saya baik-baik saja, alhamdulillah.
Pasien
: مَاذَا حَدَثَ ؟ لِمَاذَا أَنْتَ هُنَا ؟! هشام
Apa yang terjadi? Mengapa engkau di sini?
 
: أُغْمِيَ عَلَيَّ، وَأَنَا فِي الشَّرِكَةِ، وَعِنْدَمَا أَفَقْتُ، وَجَدْتُ نَفْسِيْ هُنَا فِي الْمُسْتَشْفَى. إبراهيم
Saya mendadak pingsan ketika berada di perusahaan, dan ketika siuman, saya mendapati diriku di sini, di rumah sakit.
 
: وَمَا رَأْيُ الطَّبِيْبِ ؟ هشام
Apa yang dikatakan dokter?
 
: فَحَصَنِي الطَّبِيْبُ، وَقَالَ لِيْ: أَنْتَ بِخَيْرٍ. إبراهيم
Dokter memeriksaku, dan berkata kepadaku: Engkau baik-baik saja
 
: مَا الْمُشْكِلَةُ ؟ هشام
Apa masalahnya?
 
: اْلأَمْرُ عَجِيْبٌ جِدًّا، طَلَبَ مِنِّي الطَّبِيْبُ أَنْ أُغَيِّرَ أُسْلُوْبَ حَيَاتِيْ. إبراهيم
Sungguh mengherankan sekali, dokter menyuruhku gaya hidupku.
 
: تُغَيِّرْ أُسْلُوْبَ حَيَاتِكَ! مَاذَا يَقْصُدُ؟ هشام
Mengubah gaya hidupmu! Apa yang dia maksud?
 
: قَالَ لِيْ: حَيَاتُكَ كُلُّهَا عَمَلٌ، لاَ تَرْوِيْحَ فِيْهَا. إبراهيم
Dia berkata kepadaku: Hidupmu semuanya kerja, tidak ada istirahat di dalamnya
 
: يَالَهُ مِنْ أَمْرٍ عَجِيْبٍ! هشام
Sungguh aneh!
 
: صَدَقَ الطَّبِيْبُ، فَحَيَاتِيْ كُلُّهَا عَمَلٌ، لاَ تَرْوِيْحَ فِيْهَا. إبراهيم
Dokter benar, karena kehidupanku semuanya kerja, tidak kenal istirahat
 
: وَبِمَ نَصَحَكَ؟ هشام
Apa nasehatnya kepadamu?
 
: أَنْ أَقْضِيَ الْعُطْلَةَ فِيْ بَلَدٍ جَمِيْلٍ. إبراهيم
Agar saya berlibur di negeri yang indah
 
: يَالَهَا مِنْ نَصِيْحَةٍ طَيِّبَةٍ! هشام
Sungguh nasehat yang bagus!

Selasa, 24 Januari 2012

Qiroah - 3 : Bahaya Rokok


انتشر التدخين، وكثرت نسبة المدخنين في هذا العصر، مما ينذر بازدياد المشكلات الصحية بينهم. فقد أظهرت دراسات كثيرة أن التدخين يعرض الصحة لكثير من الأخطار، وأنه سبب لكثير من الأمراض، مثل: أمراض القلب، وسرطان الرئة، والالتهاب الرئوي، كما أنه يسبب الشيخوخة، ويزيد نسبة الوفيات.
صحيح أن كل شيء بقضاء الله، وأن الموت والحياة والمرض والصحة، كلها بيد الله، ولكن يجب أن نتذكر دائما، أن الله سبحانه وتعالى يقول: (ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة). ويقول: (ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما). والتدخين قتل للنفس، وانتحار بطيء، كما أنه ضرر بإجماع الأطباء والعقلاء. والرسول - صلى الله عليه وسلم - يقول: "لا ضرر ولا ضرار"، وقد لوحظ أن نسبة وفاة المدخنين تزداد بازدياد استهلاك السجائر.
وفي كل هذا دليل على خطر التدخين على البشرية، فهل يدرك صغار الشباب - بصفة خاصة - ما ينتظرهم من أخطار وأضرار، إذا مارسوا التدخين، وأقدموا عليه؟!
نتيجة لكل ما سبق، فإن المدخن يقتل نفسه بنفسه، كما ثبت أن ضرر التدخين يتعدى المدخنين أنفسهم إلى بقية أفراد المجتمع من المجاورين للمدخنين، فالتدخين ضرر متعد، لأن الدخان المتصاعد من أفواه المدخنين، يستنشقه من حولهم دون اختيار منهم. والحرية الشخصية هنا تتعارض مع حقوق المجتمع. وكم من حريق شب بسبب المدخنين، وكانت أضراره جسيمة.
ينفق المدخنون أموالا كثيرة على السجائر، ولا يأخذون مقابل ذلك إلا ضررا وخسارة. وقد وجد أن ما ينفقه 60 مليون مدخن في أمريكا، يكلف 4 مليارات دولار في العام. وتزداد المصيبة عندما يكون المدخنون من الأسر الفقيرة، التي تستهلك السجائر أكثر دخلها، فتترك هذه الأسر الأشياء الضرورية، وتشتري السجائر، وفي هذا إضاعة للمال، وقد نهى الإسلام الإنسان عن إضاعة المال، فيما لا فائدة فيه.
لكل هذه الأسباب، وغيرها، جاء الدين الإسلامي بالنهي عن التدخين وتحريمه، لأنه بهذه الصفة لا يكون من الطيبات التي أحلت لبني آدم، بل هو من الخبائث التي حرمت عليهم. قال الله تعالى: (ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث).

Senin, 16 Januari 2012

Qiro'ah




كانت علامة الصحة - في الماضي - أن يكون الإنسان سمينا، كثير اللحم والشحم، فالإنسان السمين هو الصحيح، والإنسان النحيف هو المريض. وكان الناس يأكلون كثيرا إذا وجدوا الطعام. وكان الرجال يفضلون الزواج بالمرأة السمينة، ولا يحبون الزواج بالمرأة النحيفة.


تقدم الطب كثيرا الآن، وظهر أن هناك أمراضا تصيب الشخص السمين، وهي أمراض خطيرة، مثل: أمراض القلب، والسكري، وضغط الدم. لقد أصبحت البدانة - اليوم - علامة على المرض، وأخذ الناس يتبعون الحمية، فيتناولون طعاما قليلا ويبتعدون عن السكريات والدهون والنشويات.


وأصبح الأطباء يحذرون الناس من الطعام الأبيض، والحليب كامل الدسم قائلين: ابعد عن السكر. ضع قليلا منه في الطعام. لا تأكل الخبز الأبيض، كل الخبز الأسمر. لا تأكل الأرز الأبيض، كل الأرز الأسمر. وأصبح الناس يتبعون الحمية، فيأكلون قليلا من اللحم الأحمر، والبيض، ويتناولون كثيرا من السمك والدجاج والخضراوات، والفواكه.

نهى الأسلام عن الأسراف في الطعام، لأن الأكل الكثير يضر الإنسان. قال تعالى: (وكلوا واشربوا ولا تسرفوا إنه لا يحب المسرفين). وقال الرسول - صلى الله عليه وسلم - : "ما ملأ آدمي وعاء شرا من بطنه، بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه، فإن كان لا محالة، فثلث لطعامه، وثلث لشرابه، وثلث لنفسه".

Pengertian “ SEHAT” antara dulu dan sekarang

    Tanda –tanda sehat pada zaman dulu adalah ketika seseorang itu Gemuk, berdaging dan berlemak. Bila seseorang itu gemuk maka dia orang yang sehat.Dan Orang yang kurus berarti dia adalah orang yang sakit. Manusia akan makan yang banyak ketika mereka bertemu makanan. Dan dulu, laki-laki lebih suka menikah dengan wanita yang bertubuh gemuk, dan mereka tidak suka menikah dengan wanita yang kurus

Pada masa kini Ilmu kedokteran telah mengalami banyak kemajuan. Ternyata didalam tubuh yang gemuk telah ditemukan berbagai penyakit, dan penyakit-penyakit tersebut sangat membahayakan/mengkhawatirkan, Misalnya : Penyakit jantung, penyakit gula dan tekanan darah tinggi.Sesengguhnya pada masa kini, mengalami kegemukan  adalah tanda berpenyakit. Dan manusia harus memulai menjauhi pantangan ( diet ), mengurangi makan, menjauhi makanan manis dan berlemak

Para Dokter memperingatkan manusia akan bahayanya makanan berwarna putih, susu berlemak dan full cream, seraya mereka berkata “ Jauhi gula, beri sedikit saja pada makanan, jangan makan roti putih, makanlah roti yang kecoklatan. Jangan makan nasi putih, makanlah nasi merah, dan manusia harus memulai Diet. Makan sedikit saja daging merah, telur. Makanlah banyak ikan, daging ayam , sayuran dan buah-buahan

Islam melarang berlebih-lebihan dalam hal makan, karena terlalu banyak makan dapat membahayakan. Alloh berfirman “Makan dan minumlah kalian tetapi jangan berlebihan ,karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan ). Dan Rosul SAW bersabda :”Tidak ada wadah yang bisa diisi yang lebih buruk dari pada perut anak cucu Adam, Makanlah sekedar cukup untuk menegakkan tulang punggung. Jika terpaksa harus makan banyak, cukuplah kamu isi perutmu dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiganya nafas

Hiwar ke - 3

عِنْدَ الطَّبِيْبِ
KE DOKTER
: الضَّغْطُ مُرَتَفِعٌ، وَالسُّكَّرِيُّ أَيْضًا. مَاذَا حَدَثَ؟
الطبيب
Tekanan darah tinggi dan gula juga. Apa yang telah terjadi?
Dokter
: تَنَاوَلْتُ دَوَاءَ الضَّغْطِ، وَدَوَاءَ السُّكَّرِيِّ. المريض
Saya telah minum obat tekanan darah dan obat gula.
Pasien
: أَعْتَقِدُ أَنَّكَ لَمْ تَتَّبِعِ الْحَمِّيَةَ. الطبيب
Saya yakin anda tidak mengikuti aturan diet (pantangan)
 
: هَذَا صَحِيْحٌ، فَقَدْ تَنَاوَلْتُ كَثِيْرًا مِنَ السُّكَّرِيَّاتِ وَالدُّهُوْنِ وَالنَّشَوِيَّاتِ. المريض
Betul, saya telah mengkonsumsi banyak (makanan/minuman) yang mengandung gula dan kolesterol
 
: وَأَعْتَقِدُ أَنَّكَ لَمْ تُمَارِسِ الرِّيَاضَةَ أَيْضًا. الطبيب
Dan saya rasa anda juga tidak melakukan olahraga
 
: حَاوَلْتُ ذَلِكَ، وَلَكِنْ لَمْ أَسْتَطِعْ، فَأَنَا مَشْغُوْلٌ دَائِمًا. المريض
Saya telah berusaha untuk itu, akan tetapi saya tidak sanggup. Karena saya selalu sibuk.
 
: حَالَتُكَ خَطِيْرَةٌ. لاَبُدَّ مِنَ الْحَمِّيَةِ، وَلاَبُدَّ مِنَ الرِّيَاضَةِ. الدَّوَاءُ وَحْدَهُ لاَ يَكْفِيْ. الطبيب
Kondisimu mengkuatirkan. (Anda) harus mengikuti diet dan harus melakukan olahraga. Obat saja tidak cukup.
 
: مَاذَا أَفْعَلُ يَا دُكْتُوْر ؟ المريض
Apa yang harus saya lakukan, wahai dokter?
 
: اِتَّبِعِ الْحَمِّيَةَ، وَمَارِسِ الرِّيَاضَةَ، وَتَنَاوَلِ الدَّوَاءَ، وَقَابِلْنِيْ بَعْدَ شَهْرٍ. الطبيب
Ikutilah diet makanan, rajinlah berolahraga dan minum obat. Lalu datanglah kepadaku setelah sebulan.
 
( بَعْدَ شَهْرٍ يُقَابِلُ الْمَرِيْضُ الطَّبِيْبَ)  
Setelah sebulan pasien menghadap dokter
 
: الضَّغْطُ عَادِيّ، وَكَذَلِكَ السُّكَّرِيُّ. مَاشَاءَ اللهُ ! مَاذَا فَعَلْتَ ؟ الطبيب
Tekanan darahmu sudah normal, demikian pula kadar gula. Masya Allah. Apa yang anda lakukan?
 
: اِتَّبَعْتُ الْحَمِّيَةَ، وَمَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ، وَتَنَاوَلْتُ الدَّوَاءَ. المريض
Saya mengikuti diet makanan dan rajin berolahraga serta minum obat
 
: أَحْسَنْتَ. قَابِلْنِيْ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ. الطبيب
Bagus. Datanglah kepadaku setelah enam bulan.
 
: إِنْ شَاءَ اللهُ، وَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا المريض
Insya Allah. Semoga Allah membalas kebaikanmu.